Sebuah Aksi Performatif dari Teman-Teman yang Aktif

Ini adalah cerita tentang malam di mana teman-teman dari 69 Performance yang mengguncang ruangan gelap dengan aksi di malam Jumat, tanggal sepuluh bulan dua.

Apalah yang kutahu tentang performance art? Untuk membahasakannya ke bahasa Indonesia saja sulit. Ehm, seni performans? Sepertinya tidak bisa semudah itu diterjemahkan tapi tetap tergelitik mencari padanan yang tepat dengan ragam praktek dan wacana pendamping di Indonesia.  Apa bedanya coba dengan seni pertunjukan pada umumnya? Seperti tari, teater, atau pantomim? Ada pula yang namanya Video Performance, Conceptual Art, dan istilah lain yang mungkin belum pernah melintas di telinga. Untungnya pernah sekali waktu menguping di kuliah performance oleh Hafiz Rancajale di Saidi 69. Dengar sajalah, baru mengerti setahun atau dua tahun lagi tak masalah. Yang kutahu, si pelaku performance art itu disebut performer, dan mereka menggunakan tubuhnya sendiri sebagai media penyampai pesannya. Terkadang juga menggunakan benda-benda lain sebagai pendukung, misalnya saja cermin, yang selalu dibawa Ragil Dwi Putra dalam setiap performance nya. Atau ada performer yang selalu tampil tanpa busana. Atau menggabungkan teknologi dengan imajinasi. Dan semua itu, sah sah saja. Namanya juga seni kontemporer. Tapi jangan salah, semuanya punya perhitungan dan kajian untuk karya performance nya. Tak boleh asal, tapi tak juga mesti punya pemahaman massal. Semua penonton boleh berinterpretasi selepas menyaksikan karya, tak mesti memaksa untuk sepaham dengan si pengkarya. “The Dead of the Author” kalo kata Roland Barthes. Istilah dan kutipan itu juga kudengar dari seorang peneliti bernama Manshur Zikri.

Sesuai dengan judulnya, Equal, Hanif membawa sebuah kayu panjang berukuran lebih dari tinggi badannya lalu menyentuhkannya dengan sebuah kubus berwarna putih, kemudian mengukur dengan perkiraannya agar jarak ujung kayu dengan kanan-kiri-atas-bawah kubus sama dan tepat di tengah. Sehingga kubus itu berhasil terdorong dengan kayu tipis dan sedikit teori fisika dasar yang ia punya. Seimbang. Itu pula yang ia lakukan saat meletakkan kayu panjang tersebut di atas kepalanya dan berjalan melewati para penonton dengan stage yang dibuat sedemikian rupa menyerupai catwalk. Laki-laki mungil itu pun melakukan bagian aksi performatif lainnya, bersiul circus song dan membawa bola di depan dada sambil tetap menyeimbangkan kayu panjang di atas kepala. Di ujung performance, Hanif memindahkan kayu panjang dari atas kepalanya ke atas kubus dan bola yang ada. Penonton sempat dibuat berdebar saat Hanif naik ke atas kubus dan berpostur seperti akan melangkah melewati kayu panjang ke arah bola, yang mengingatkan akan jembatan sehelai rambut. Tak sedikitpun pandanganku beralih dari performance itu.

Equal, 2017, Hanif Al Ghifary

Are We Friends? Or I Just Haunt You?, 2017, Hauritsa

Atlas, 2017, Otty Widasari

Practice Makes A Master, 2017, Pingkan Polla

Taman Bermain Samba, 2017, Prashasti

Glance In The Mirror, 2017, Ragil Dwi Putra

Untitled, 2017, Rambo Rachmadi

Berbagi Elok Datar Menyimpulkan Yang Bundar, 2017, Reza Asung Afisina

Take My Breath Away, 2017, Abi Rama

Edisi X 69 Performance Club: Stage On Body & Shape, Gudang Sarinah Ekosistem.

Fujifilm XM-1 & Sony NEX 6300