Keterangan yang Tak Terang

Ditulis untuk project dan pameran “Diorama: Karena Sejarah adalah Fiksi, 17-27 November 2016 di Gudang Sarinah Ekosistem”

***

“Apa itu, Bu?”

“Ini namanya diorama, nak.”

“Tentang apa ya bu?”

“Baca saja apa yang ada di sana, keterangan gambarnya. Di sana sudah dijelasin semua, lengkap.”

Sebuah dialog ibu dengan anak laki-lakinya yang mengunjungi diorama-diorama museum Monas dalam rangka rekreasi keluarga.

September 2016 saya mencoba untuk ikut terlibat dalam sebuah proyek seni yang mengharuskan saya dan teman teman mengunjungi museum yang ada di Monumen Nasional, Jakarta Pusat. Sesering mungkin saya harus ke sana. Sesering mungkin sampai bosan dan muak. Bagi saya si pendatang dari luar Jakarta, mengunjungi Monas hanya perlu untuk legitimasi diri bahwa saya benar-benar pernah ada di Jakarta, dengan sekali menginjakkan kaki di ikon ibukota ini. Sekali merasakan naik ke atas cawan dan puncak, sekali berpose ilusi seperti memegang puncaknya, atau sekali merasakan gemerlap ambiens monumen ini di malam hari. Bukan berkali-kali atau hampir setiap hari.

Diorama rupanya sangat menarik untuk diamati bersama. Semakin menarik ketika sulit mendapati buku-buku dan bacaan referensinya. Saya membolak-balik halaman demi halaman buku sejarah, dari yang paling baru sampai yang warna kertasnya serupa gigi yang jarang disikat, setumpuk makalah, saling melakukan pre-interview dan diskusi dengan anggota tim juga para pegiat seni, sampai opsi terakhir yaitu membuka laman-laman akademis maupun non-akademis di internet dari gawai. Saya menambah bagasi pengetahuan dengan ragam pemahaman, pendapat, dan ide dari ragam sumber, namun memang masih minim yang membahas tentang diorama, secara konteks, maupun teknis pembuatan diorama itu sendiri. Namun, untuk gagasan akhir, tetap masih melayang-layang di udara.

Pembuat diorama Monas dan belasan patung monumen terikonik di Indonesia, Edhi Sunarso, harusnya menjadi narasumber kunci pada penelitian ini. Beliau membuat patung sejak tahun 1953 hingga tahun 2003. Dari monumen Tugu Muda di Semarang sampai monumen pahlawan Ida Bagus di Bali. Dan diorama Monas yang dibuatnya tahun 1963, ada di dua masa pemerintahan, Soekarno dan juga Soeharto. Namun sayangnya, beliau telah wafat Januari 2016 lalu. Hanya ada sedikit peninggalan berupa video wawancara beliau berdurasi enam jam yang diambil oleh seorang kolega dari Jogja yang bisa ditelaah.

Sebelum tenggat waktu untuk presentasi tentang diorama, saya dan tim memutuskan untuk bergerombol mengunjungi Monumen Nasional. Tempat wisata itu tak terlalu ramai karena bukan di akhir pekan. Ada sesuatu yang berbeda dari Monas saat ini dan tahun-tahun sebelumnya. Sekarang dibutuhkan sebuah kartu elektronik sebagai tiket masuknya, persis seperti tiket commuter line yang tadi kami naiki, bedanya untuk masuk ke Monas hanya ada satu penyedia kartu dari bank lokal dan hanya itu saja yang berlaku. Tidak menerima uang tunai, katanya. Bagian dari konvergensi mata uang nampaknya, mempersiapkan negara modern yang serba elektronik. Semoga tak ada kericuhan berarti ketika tiba eranya, layaknya masa-masa pergantian terdahulu seperti munculnya televisi warna, masuknya kamera digital, internet, dan kawan-kawan. Semuanya mengakibatkan keterkejutan dan dianggap tidak perlu atau menyusahkan, hanya kalangan atas yang mampu mengikuti perkembangan terbaru, menghancurkan kejayaan penyedia barang-barang sebelumnya, dan alasan-alasan ketidaksiapan lainnya.

Orang-orang lalu-lalang. Saya mondar-mandir mengamati enam sisi diorama yang ada. Berkeliling mengitari, layaknya prosesi tawaf di Ka’bah sana. Bedanya, di sini saya berputar-putar berulang-ulang melihat 51 kotak tiga dimensi tertutup kaca yang di dalamnya juga berisi miniatur tiga dimensi yang menggambarkan peristiwa-peristiwa sejarah Indonesia. Urutannya, saya melihat isi kotak diorama, lalu keterangan atau caption yang terletak di bawah dioramanya. Kotak diorama, lalu keterangan gambar. Begitu dan begitu terus sampai habis. Tak lupa saya memainkan rana dan diafragma untuk memotret tiap panorama diorama dengan kamera Fujifilm kesayangan saya. Satu persatu, dengan urutan yang sama agar tak ada yang terlewat nanti. Dan kemudian saya ulangi lagi dengan tanpa memotret, hanya memperhatikan apa yang ada di balik kaca masing-masing kotak tiga dimensi. Sejarah kita terpatri di diorama.

Kunjungan selanjutnya saya lakukan di akhir pekan. Pengunjung membludak sampai menghabiskan setengah jam di pintu tiket masuk. Ramai sekali. Saya bisa saja hilang di tengah keramaian dan terpisah dengan tim. Saking ramainya, akhirnya saya berpikiran untuk mengamati para pengunjungnya saja hari ini. Pengunjung yang melihat-lihat diorama. Ada macam-macam orang di sana. Dari anak-anak pramuka yang sedang studi tur, rombongan keluarga, hingga genk ibu-ibu pengajian dengan warna-warni kostum yang senada. Lebih banyak lagi pasangan remaja yang ingin jalan-jalan murah sambil edukasi dan napak tilas sejarah. Macam-macam pula tingkah laku pengunjung, ada yang piknik, tidur-tiduran, berfoto atau ber-swafoto ria (bahkan ada beberapa yang menggunakan flash kamera saat memotret kaca diorama), atau yang terakhir, benar-benar mengamati diorama yang ada. Tapi yang terakhir itu hanya segelintir orang saja. Banyak temuan-temuan yang kudapat kemudian.

Di masing-masing diorama tertera dua kotak keterangan gambar, dengan dua bahasa yang berbeda pula, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Ya, upaya agar para bule yang datang berkunjung bisa memahami apa yang terjadi dalam diorama dengan bahasa universal dunia itu. Alangkah anehnya ketika ternyata pengunjung malah dibuat bingung dengan keterangan gambar yang tercantum. Keanehan dan kekeliruan dalam teks keterangan atau caption yang ada menjadi temuan saya dalam pengamatan, mau dari isi atau translasi. Lucunya, tak hanya satu, tapi banyak! Mungkin tak semua orang menyadarinya, tapi kalau orang luar membaca, malulah kita!

Perserikatan Bangsa Bangsa di translasi menjadi World Body

RA Kartini menjadi Princess Kartini

dan masih banyak kekeliruan yang membuat alis menyatu dan dahi mengernyit. Dan saya masih tetap tergelitik.

Pengalaman ini mengingatkan saya ketika menonton sebuah filem dengan subteks berbahasa Indonesia. Filem dan subteksnya harus dibaca sebagai satu kesatuan karya. Ketika subteks melenceng dari visualnya, menjadi sangat mengganggu bagi saya. Sama halnya dengan diorama yang keliru dalam berketerangan. Ironi memang, tapi tak tahu siapa untuk disalahkan.

Parahnya lagi, ketika saya berkeliling dan melakukan observasi diorama dan orang-orang sekitarnya, saya berpapasan dengan seorang turis asing yang kudengar asalnya dari Irlandia, berjalan bersama seorang gadis lokal yang tampaknya adalah guide-nya. Si gadis lokal terus bercerita tentang sejarah-sejarah yang ada diorama-diorama kepada si turis. Isinya? Hampir seluruhnya keliru. Tak yakin apa karena ia membaca caption-caption yang salah, atau si pemandu yang buta sejarah. Oh, sungguh tak genah.

Indonesia menjadi anggota PBB, 28 September 1950, adalah satu narasi yang dipilih untuk masuk dalam diorama. Terlihat diorama yang menggambarkan suasana pada saat itu. Di dalam kotak keterangan teks tertulis kerjasama antara masyarakat antar bangsa untuk Perserikatan Bangsa Bangsa atau disingkat PBB, namun subteks terbaca ganjil, seperti dialih bahasa dari translasi Google yang serba otomatis!

Keterangan teks:

Dalam kehidupan bersama dan bermasyarakat di dunia, kerjasama antar bangsa dalam suatu wadah adalah sangat berguna untuk memelihara perdamaian dunia. PBB dan organisasi bawahannya bermanfaat untuk mengatasi sengketa antara negara-negara yang telah merdeka dan mempercepat proses dekolonisasi. Menyadari hal itu dan mengingat bantuan dalam menyelesaikan sengketa Indonesia – Belanda, Indonesia terdorong menjadi anggota PBB.

Alih bahasa dalam bahasa Inggris:

The united nation organization plays an important role in maintaining the world peace and overcoming differences among nations and it is also very useful to accelerate the process of decolonization. The united nations and subordinate agencies assisted in settling the dispute between Indonesia and the Dutch. Therefore, Indonesia felt the urgency to become member of the World Body.

Sistem orde baru yang sangat mengontrol, punya sebab-akibat yang besar pada sistem pendidikan yang ada di Indonesia. Mungkin di beberapa kota besar, pernah dipertontonkan filem sejarah 30S di kelas-kelas belajar mereka dulu. Namun, sejarah tak pernah tersampaikan secara utuh, dan hanya terpapar di permukaan. Pelajaran Pancasila di sekolah bahkan tak banyak menempel di otak kita. tidak mengalami represi orde baru, kita berasa sangat jauh dengan sejarah bangsa, sejarah tak kronologis.

Teks tak berdiri sendiri. Tak otonom. Dan mungkin saja, teks tersebut tak bebas, karena manusia yang membacanya punya bagasi yang berbeda tiap kepala. Tiap orang punya pengalaman dan referensi yang beragam. Pun selalu ada narasi yang dibangun oleh pembuatnya, seperti misalnya visual yang menggambarkan diorama dari teks-teks pendampingnya. Teks membangun visual tentang gambar yang ada di hadapan para pengunjung diorama. Menunduk, tertunduk, sejenak terpaku lalu memandang ke depan kotak diorama. Seakan membuat kita patuh dengan sistem yang ada. Tapi sebenarnya, kesalahan teks berpeluang menjadi hal yang sangat fatal dan berbahaya jika dilihat dan dijadikan referensi orang-orang untuk mempelajari sejarah di tempat.

Ketika pertama kali menyambangi diorama-diorama yang terjajar rapi, saya secara prakonsep langsung memperhatikan teks diorama sebelah kiri, yang mana adalah teks berbahasa Indonesia. Sebagai orang lokal, saya sendiri sedikit tidaknya mengabaikan teks translasi di kotak keterangan sebelahnya yang tertulis dalam bahasa Inggris. Mungkin begitu pula yang ada di dalam benak orang-orang pendatang alias turis luar yang datang dan ingin tahun sejarah dalam diorama, bahasa universal-lah yang mereka cari. Dua narasi didapat sekaligus. Satu dari teks diorama tertulis, satu narasi lagi yang mereka dapat dari para pemandu.