Drama Diorama dan Akumassa

Tepat pukul empat sore aku tiba di tempat ini setelah menyusuri jalanan dari halte Blok M jurusan Kota, dan berhenti di halte Monumen Nasional. Hari ini aku telah mengatur janji untuk bertemu dengan Zikri, Reyhan, Andreas, Pingkan, dan seorang teman dari Lombok bernama Sibawaihi. Museum diorama Monas menjadi tujuan kami kali ini. Kumpulan diorama-diorama atau sejarah Indonesia yang direkam melalui media seni layaknya miniatur reka adegan. Terbagi jadi lima bagian di lantai yang sama, diorama-diorama berjejer lengkap dengan judul dan keterangan dari masing-masing judul kejadian bersejarah itu. Dari jaman purbakala hingga terakhir di jaman negeri ini sudah penuh dengan teknologi mutakhir. Oh, diorama-diorama ini dibuat pada era Soeharto rupanya. Dan diciptakan dari tangan seorang luar biasa bernama Edi Soenarso. Berada di depan karyanya saat ini mengingatkanku pada salah satu penyesalan terbesar dalam hidup ;  beliau meninggal sesaat setelah aku berkenalan dengan beliau, dan sebelum aku berhasil merekam perkataan demi perkataannya. Aku yang saat itu berniat membuat personal documentary dari orang-orang inspiratif termasuk beliau, sungguh terkejut mendengar kabar bahwa beliau lebih dulu menghadap ke Tuhan. Beliau orang hebat, yang membuat sebagian besar patung monumental di Indonesia, dan diorama-diorama sejarah Indonesia yang disimpan rapih di museum ini.

Sepanjang mengamati diorama demi diorama yang ada sembari mengabadikan dengan kamera, aku beriringan dan kerap berbincang dengan Siba, si penulis Akumassa dari Lombok ini. Banyak pertanyaan yang terlontar dari mulutnya, juga kritik. Siba sangat kritis dan tahu banyak, pikirku. Akupun tak jarang berpikiran sama dengannya ketika menyimak diorama-diorama yang berjumlah kurang lebih lima puluh frame ini. Mulai dari adegan per adegan yang tersaji, penulisan keterangan, kesalahan alih bahasa, sampai hal remeh-temeh yang ada di sana. Salah satunya pertanyaan, apa bendera merah putih sudah ada sejak jaman pedagang bugis berlayar ? Aku pun tak yakin.

Kapal Dagang Bugis
Kapal Dagang Bugis
Keterangan Diorama
Keterangan Diorama

Banyak pula hal-hal aneh yang kami temui. Penerjemah bahasa di sini tampaknya tak konsisten. Padahal, itu adalah hal yang penting karena menceritakan kebenaran pasti dan sejarah. Kekhawatiranku saat itu pun langsung terbukti di depan mata, seorang pemandu turis bercerita panjang lebar tentang sejarah-sejarah diorama kepada seorang turis asing dengan banyak kekeliruan. Entah ini murni salah si penerjemah, atau si pemandu yang buta sejarah.