Sosial-Kapital & Dokumenter Eksperimental

eksperimental/ek·spe·ri·men·tal/ /éksperiméntal/ a bersangkutan dengan percobaan;

— folklorik seni gerak yang tetap berada dalam kerangka tradisi tari suatu suku bangsa; tetap menggunakan unsur tari tradisional dari wilayah yang terbatas, tetapi baru dan eksperimental dalam menyusun ramuan unsur tersebut;
— universal seni gerak yang sama sekali tidak terikat secara struktural oleh ketentuan
eksperimen/ek·spe·ri·men/ /éksperimén/ n percobaan yang bersistem dan berencana (untuk membuktikan kebenaran suatu teori dan sebagainya
Empat tahun lalu, aku memutuskan untuk memilih jurnalistik penyiaran sebagai peminatan di bangku kuliah strata satu. Waktu itu, cita-citaku adalah semata ingin menjadi seorang penulis, yang mana waktu itu pula menurutku jurusan jurnalistik lah yang paling mendekati. Mungkin aku salah kaprah, namun kurasa aku tak salah arah.
Aku melakukan banyak hal yang kusuka di sana, termasuk menulis (meskipun berita) dan membuat film yang jujur, dokumenter.
Kurang lebih satu tahun yang lalu, aku mengenal sebuah festival yang menyuguhkan dokumenter-dokumenter pilihan dari banyak negara, yang dibuat dengan ‘gaya’ yang berbeda. Dokumenter eksperimental namanya. Di festival film Arkipel itulah aku tercebur, atau menyeburkan diri ke sana. Kebebasan eksperimen sutradara dan kejujuran bahasa visual dari dokumenter eksperimental sangat mencuri perhatian. Dan, siapa sangka, di tahun ini aku menjadi salah satu orang yang ambil peran di dalam satu-satunya festival dokumenter eksperimental di asia ini, Arkipel/Social-Kapital. Beraksi sebagai tim dokumentasi, aku bergerilya ke ruang demi ruang pemutaran sinema – sinema alternatif itu.
Tak hanya pemutaran film biasa, Arkipel tahun ini diisi dengan kompetisi internasional, program kuratorial, Asian Young Curator, pameran Kultursinema, special presentation, festival forum, dan program terbarunya, Candrawala. (lebih lengkapnya di arkipel.org)
Di malam pembukaan, semua yang hadir dibuat merinding dan takjub oleh Dialita, kelompok paduan suara yang dibentuk oleh para gerwani yang membawakan lagu-lagu yang sarat dengan persoalan kemanusiaan dan sejarah tahun 1965. Tak boleh diliput media dan disebarluaskan, membuatku merasa beruntung atas kesempatan menyaksikan Dialita yang membuat mata berkaca-kaca, seakan tercampak ke masa lampau dan merasakannya.
Zone Zero (2014), sebuah dokumenter garapan sutradara asal Belgia, Farzad Moloudi menjadi filem pembuka yang mengantarkan filem-filem selanjutnya dalam rangkaian festival film dokumenter dan eksperimental ini.
Selama menonton dan menikmati sinema eksperimental, ada beberapa yang membuatku nyaris tertidur, namun ada pula beberapa yang membelalakkan mata selama filem diputar, tampaknya aku tak begitu bersahabat dengan filem tak berwarna, dan sangat tertarik dengan filem dengan banyak kata-kata dan perbincangan, mungkin karena aku selalu memperhatikan naskah dalam filem. Itu mengapa aku sangat tergila pada trilogi Before Sunrise yang penuh dialog dan berlatar di kota-kota bergedung tua di Eropa.
Dalam festival ini, ada dua filem yang paling menarik bagiku. Pertama,
“In Vanda’s room”
Pedro Costa (Portugal)
Filem yang merekam kehidupan sehari-hari di sebuah kamar seorang pecandu heroin bernama Vanda. Setiap hari, setiap saat, narkoba bersamanya. Vanda tinggal di daerah pinggiran Lisbon yang sangat kumuh, yang juga sedang dalam proses penggusuran. Pedro Costa (Portugal), sang pembuat filem terasa sangat dekat dengan objek, yaitu Vanda, dan orang-orang yang ada di sekitar Vanda karena dia merekam semua kegiatan dan berinteraksi dengannya. Radikal dan ‘Real’ begitu tergambar dalam filem ini.
 “My Talk with Florence”
Paul Poet (Austria)
Ekspresi diri, amarah, memori, dan kecemasan serta harapan bercampur aduk dalam cerita-cerita tentang masa lalu yang kelam, yang secara direct diungkapkan oleh Florence sambil memegang sebuah boneka yang penuh luka. Tema seniman Ottu Muhl menjadi jangkar dalam kehidupan bohemian Florence, pada tema itu kecemasan (angst) menjadi satu-satunya akses terhadap peristiwa di masa lalu yang ‘gamang’.