11 Tahun Rolling Stone INA

Pergi ke konser musik bagiku adalah cara untuk mengapresiasi diri. Suasananya adalah yang pertama, tentang siapa yang konser, masih jadi poin kedua. Aku merasakan kebebasan dan ekspresi ketika menonton pertunjukan atau konser musik.

Minggu sore setelah berjalan-jalan di Blok M dengan lautan manusia yang berjibun mengerumuni festival Ennichisai, aku yang tak tahan dengan keramaian di sana langsung berpikiran untuk beranjak dari tempat itu. Terlintaslah ide untuk datang ke sebuah acara yang tempo hari kubaca di Instagram, perayaan sebelas tahun Rolling Stone Indonesia. Tanpa pikir panjang, aku berangkat.

Baru saja tiba di Ampera Raya No. 16, seorang perempuan pirang menyapa. Yeay, bertemu Qania! Tanpa rencana, terkadang memang lebih menyenangkan. Jadilah aku membuntuti Qania, menjadi media yang meliput. Ah, memang dasar aku yang ingin jadi jurnalis.

Scaller, band pertama yang kami tonton ini kabarnya sedang hits di dunia musik indie. Bagaimana tidak, musik rock alternatif yang dibawakan sama menghipnotisnya dengan si vokalis wanitanya. Ini adalah kali pertama aku menyaksikan aksi panggungnya, dan sungguh pantas mereka masuk nominasi sebagai musisi pendatang baru terfavorit di salah satu penghargaan televisi ternama Indonesia. Setelah itu, akhirnya aku bisa menonton salah satu band kesukaanku sejak SMA, The Adams. Ternyata umur tak menghalangi mereka untuk mengguncang panggung Rolling Stone Cafe semalam. Lagu-lagu mereka selalu bisa mengundang siapapun yang menonton untuk bernyanyi dan bergoyang.

The Adams
The Adams

Setelah lagu “Halo Beni” dari The Adams selesai dibawakan, aku dan Qania langsung bergerak mundur menjauh dari panggung. Seringai dengan massa yang sudah berkumpul untuk mengantuk-antukkan kepala mereka bersama. Lebih baik aku menikmati dari kejauhan, sambil berteriak “Individu Merdeka!”

Seringai

Seringai dengan penonton moshing
Seringai dengan penonton moshing

Sehabis panggung diluluhlantakkan oleh band metal yang digawangi oleh Arias Tigabelas, panggung istirahat sampai magrib selesai. Aku dan Qania membeli sekaleng bir dingin dan beristirahat sambil menunggu band rock yang sedang hits, dengan vokalis sekaligus pemain bass yang sangat tampan, Kelompok Penerbang Roket!

Beruntunglah aku bersama teman-teman media, aku bisa masuk ke media pit untuk memotret stage dari dekat dengan akses mereka. Jarakku dengan Coki hanya sebatas udara. Sangat dekat hingga aku bisa menggapai kakinya, jika aku ingin.

Betapa senangnya juga karena band selanjutnya adalah band yang sangat kuidolakan dan selalu kutunggu aksinya. Rekti and komplotannya: The Sigit!
Ah, mungkin aku akan menyesal kalau aku tak pergi dari rumah hari ini. Aku tak pernah mau melewatkan momen sedekat ini dengan mereka, meskipun pernah sebelumnya.
Bersyukur selagi muda, badan terlampau kuat untuk berlompat dan bergumul peluh sambil berteriak lagu-lagu kesukaan di depan panggung sang idola.

 

Kelompok Penerbang Roket

Kelompok Penerbang Roket
Kelompok Penerbang Roket

The Sigit

sigit16
Rekti Yoewono, vokal dan gitar The Sigit
sigit21
Farri Iksan, gitaris The Sigit
sigit19
Absar Lebeh for The Sigit
Got the pick of Absar!
Got the pick of Absar!

Isyana Sarasvati

 

The beautiful of Isyana Sarasvati
The beautiful of Isyana Sarasvati
Aksi panggung Isyana yang akrab dengan para fans
Aksi panggung Isyana yang akrab dengan para fans