Pergi Dari Rumah: Ke Jakarta

Anak muda memang harusnya pilih jalan mendaki. Jalan berat penuh tantangan tapi bisa mengantarkan ke puncak. Jadikan perpisahan dengan keluarga itu sebagai awal perjumpaan dengan cita-cita. – Anies Baswedan, Cilandak, 1 Mei 2016, 23:07 WIB

2 Mei adalah hari pendidikan nasional bagi negeri ini. Membaca tulisan bapak Anies Baswedan di lamannya, membuatku mengingat kisah dimana akhirnya aku bertolak ke ibukota untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi.

Tahun 2010 lalu, Selepas SMA di Medan, aku tak berniat melanjutkan kuliah. Tadinya aku bercita-cita menjadi seorang arsitek seperti bapak, namun kepergiannya membuatku merasa tak lagi punya panutan dan seseorang untuk saling bertukar pikir tentang jurusan yang sebenarnya hanya berasal dari keinginan menggebu untuk menjadi seperti orang yang kukagumi. Aku pun tak yakin, matematika-ku hanya sebatas dasar algoritma. Terlebih lagi, kutahu biayanya tak murah bagi ibuku dan abangku yang jadi kepala keluarga semenjak bapak pergi. Lagipula, di kota ini, yang dibanggakan orangtua adalah jika anaknya masuk jurusan kedokteran, atau hukum, seperti mimpi para orang batak. Selebihnya, tak keren, anggapnya.

Lalu aku memutuskan untuk bekerja, dan diterima di sebuah perusahaan event organizer milik seorang bujang tua bermarga Lim.

Gajiku termasuk lumayan untuk ukuran bocah lulusan kemarin sore. Selama pekerjaan itu membuatku senang dan tidak diam saja di ruangan, aku sangat senang. Selain itu aku masih punya waktu untuk berburu gambar bersama komunitas fotografi dan melahap buku-buku di perpustakaan kesukaanku yang ada tepat di seberang Istana Maimun, Medan.

Saking cintanya aku pada perpustakaan itu, hampir setiap waktu luang aku pergi ke sana, karena tak jauh dari rumah. Aroma buku-buku tua di rak-rak buku di ruangan berlantai karpet dan ber-AC itu membuatku membaca banyak, dan juga sering tertidur nyenyak. Kalau saja petugas tak membangunkanku yang tertidur di pojok ruangan (sudut favoritku) pasti aku sudah terjebak di dunia Narnia.

Sampai suatu hari, petugas yang mungkin bosan melihatku datang memberitahu tentang pengumuman beasiswa dari Dikti. Aku menanggapinya dengan sungguh biasa. Dua alasan, karena aku merasa kemampuanku biasa saja untuk mendapat beasiswa, dan kedua, karena jika aku lolos, aku akan ke Jakarta, dan abangku tak mungkin mengijinkannya. Yah, dia kepala keluarga yang memegang kendali.

Ternyata, Tuhan mengirimiku sahabat-sahabat dan orang sekitar yang terus memaksaku maju. Menjelang tenggat waktu pengiriman, aku mengirim dokumen ke alamat yang tertera. Siapa sangka, nilai rapor SMA yang sungguh biasa, kemampuan bahasa Inggris yang apa adanya, dan pasti doa mamak, membuat namaku tertera di pengumuman penerima beasiswa. 1 dari 10 calon penerima beasiswa dari kotaku.

Tengah malam setelah pengumuman itu, baru aku bercerita dengan jantung berdegup kencang kepada mamakku dan kakak perempuanku. Memberitahu bahwa aku lolos seleksi, dan ada seleksi selanjutnya. Syukurlah, aku punya ibu yang sangat demokratis. Tapi entahlah dengan si anak tertua yang galak minta ampun itu. Ketika aku memberitahu kabar langka itu. Ini ekspresinya:

Mau jadi apa kau di Jakarta? Mau makan apa? Mau jadi pelacur?!

Sungguh sangat memotivasi.

Namun memang sepertinya anak ketiga itu dilahirkan untuk jadi pembangkang dan membuat rumah ramai. Setelah berkelahi dengannya, aku membanting pintu masuk ke kamar selama 3 hari. Sedikit mogok makan. Ibuku yang mungkin jebolan teater pun tak berhasil menggoyahkan abangku untuk memberi ijin dengan dramanya.

Untungnya, jeda pengumuman beasiswa dengan keberangkatan berjarak satu bulan, jadi aku berlagak santai. Akupun diam-diam saat ada pertemuan dengan para penerima dan pemberi beasiswa di gedung Dikti. Karena pihak mereka sudah mengatur semuanya seperti tiket dan hidupku nanti di sana, aku bekerja seperti biasa, berlagak tak akan menerima beasiswa ke Jakarta. Pada hari keberangkatan, aku diam-diam sudah packing barang dalam satu carrier. Semua serba diam-diam, begitu juga kepada ibuku, aku berbohong. Aku berkata hari itu aku akan pergi ke Kutacane, untuk bekerja kepada tanteku di sana, dan meminta beliau mengantarku sampai ke bandara bersama kakak perempuanku. Jarak kebohonganku pada Mamak hanya selama perjalanan dari rumahku di Jalan Pahlawan sampai ke Polonia. Sesampainya di sana, tangisnya lepas begitu bertemu dengan teman-teman beasiswa yang juga akan berangkat. Sahabatku, Irna, juga mengantar, namun dengan cerita yang utuh. Dasar Ibu, sudah begini beliau masih mendukungku penuh dan melepasku pergi. Tanpa rasa gentar, aku pergi meninggalkan para orangtua yang menangisi anak-anaknya merantau, dan kota yang membesarkanku, tanpa ada rencana selanjutnya, tanpa tahu kapan akan kembali.

Jika saja aku mengikuti cara kerja otakku yang menyimpulkan banyak ketidakmungkinan, aku tak akan ada di sini. Menerima beasiswa penuh, mengumpulkan rejeki, di ibukota tempat aku menuliskan ceritaku sekarang.

Akan lebih gila jika tahu tentang bagaiman aku memilih jurusanku sekarang. Saat menginjakkan kaki di kampus biru berbudi luhur itu barulah kami disodorkan dengan daftar fakultas beserta jurusan untuk dipilih saat itu juga. Seperti memilih menu makanan, namun akan dijalani selama empat tahun, dan akan berdampak sepanjang hidup. Saat itu juga aku menelepon ibuku, sembari mengabari. Terjadilah dialog ini.

Mak, kira-kira jurusan apa ya yang cocok sama Ika?

Ya Ika sukanya apa?

Gak tau ma, kan udah gak mau jadi arsitek.

Hmm, Ika kan suka nulis, kemarin menang lomba cerpen kan di Waspada? Pilih Sastra aja.

Gak ada, mak. Paling deket mungkin.. jurnalistik.

Yaudah pilih itu aja, nak. Cocok kayanya.

Lalu terdaftarlah nama Ika Yuliana sebagai mahasiswi jurusan Jurnalistik Penyiaran angkatan 2011. Yang kupilih atas dasar analisis ibuku dan kurasa tak ada jurusan itu di Medan. Mana kutahu pilihan itu membawaku pada passionku saat ini. Yang kutahu dan kupercaya hanya doa ibu, dan sesuatu yang indah pada waktunya.

Hmm, tentang abang tertuaku, butuh 6 bulan untuk memberitahunya, setelah aku menerima transkrip nilai semester pertama. Aku mengiriminya nilaiku yang lumayan bisa untuk dipamerkan. Dan surat berisi transkrip nilai itu berhasil! Berhasil membuat drama lagi di rumah. Membuat bongkahan es di hati abangku pecah dan membuatnya menangis, mungkin dia merasa membuat adik bengalnya pergi dari rumah. Atau mungkin menangis tertekan oleh drama ibuku dan seisi rumah yang menyembunyikan rahasia selama berbulan-bulan. Dia meneleponku, dan memintaku untuk mengabarinya jika ada apa-apa. Itu adalah titik balik bagi kami untuk menjadi rukun.

Semua kejadian pasti ada hikmahnya, bukan?

Selamat hari pendidikan, wahai anak rantau!

Semoga aku bisa bercerita lagi tentang bagaimana aku melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi lagi, master di tahun depan mungkin 😉