Jangan tunda Tunda! (Bagian Pertama)

Pulau Tunda? Di mana itu?

Jujur saja, aku pun baru mendengar nama salah satu pulau yang ada di Banten, daerah bagian Utara itu. Pulau tersebut menjadi destinasiku yang baru, hasil undian dan keberuntunganku di Kelas Inspirasi Jelajah Pulau Batch ke-5, sebuah gerakan relawan yang akan menjelajah pulau untuk ramai-ramai menginspirasi anak-anak di pulau-pulau yang terpilih. Aku yang masih minim pengalaman (dan masih mencari jati diri) memutuskan menjadi videografer saja, mendokumentasikan 13 inspirator yang akan pergi bersama.

Setelah melewati dua briefing dan beberapa meeting, kami siap berangkat. Bedanya, aku dan 2 orang lainnya berangkat lebih dulu sebagai tim advance. Sabtu, 9 April, kami meninggalkan Jakarta, menuju Tunda.

Processed with VSCOcam with a4 preset
Ferari, yang sudah pernah ke Tunda dua minggu sebelumnya.

Aku bukan tipe pejalan yang paham rute, jadi kupercayakan seluruhnya pada Ferari, yang bertugas sebagai koordinator pulau dan Denia yang kutahu adalah orang yang sangat detil pada tiap hal, tak seperti aku yang bermasalah dengan kemampuan spasial. Beruntung aku berangkat bersama. Ferari adalah seorang lelaki berkacamata, anak ahensi yang sangat ‘nyeni’ dan Denia adalah peneliti lingkungan. Ya, mereka orang-orang hebat.

Kami mencegat bus tujuan Cilegon di depan Halte Harapan Kita, Slipi. Dan ternyata, si kondektur salah memberikan instruksi, sehingga kami berhenti di Patung (nama sebuah daerah yang masih jauh dari tujuan seharusnya). Jadilah kami menyetop bis lagi menuju terminal Seruni, atas saran Ilham, seorang inspirator yang asli Cilegon, yang juga akan menjemput kami.

Kami pun tiba di Terminal yang dimaksud. Bertemu Ilham, yang sudah ‘carter’ angkot merah dengan tujuan pelabuhan Karangantu, di mana kami akan menunggu kapal. Tiba di pelabuhan, kapal tak kunjung datang karena surutnya air. Tak terbayang harus hidup di pulau dan harus mengandalkan kapal untuk pergi kemana-mana. Kapal datang setelah 4 jam menunggu. Kami bertiga pun mengarungi lautan bersama sak-sak semen, beras, sayuran, dan orang-orang asli Pulau Tunda yang baru selesai berbelanja di darat (begitu mereka menyebutkan pelabuhan dan tempat di luar pulau mereka).

Aku sangat menikmati pemandangan lautan lepas, buih air yang terhempas badan kapal, dan aroma air laut yang menyublim ke udara. Beruntungnya, terlambatnya kapal membuatku menyaksikan matahari terbenam dari atas kapal. Tak ada sedikitpun sesal. Aku yang tak betah di dalam ruangan, sudah pasti mengambil bagian untuk duduk di bagian depan yang tak beratap, agar tak ada batas tatap (pen-dokumentasi kan harus mencari spot terbaik), Selama dua jam duduk di sana, dua jam itu pula aku bercerita bersama Maya dan Hanif, anak Pulau Tunda yang baru pulang dari Serang, menjenguk saudara mereka. Hal-hal menyenangkan terlontar dari dua anak TK itu, sungguh lucu, sampai akhirnya Maya pun tertidur sambil memeluk tanganku. Ah, sungguh indah, bahkan sebelum aku tiba di Tunda.

Hampir pukul tujuh malam, kami tiba. Ferari yang sudah tahu banyak karena ia sebelumnya pernah ke sana untuk survei langsung mengambil jalan di depan. Turun dari kapal di hari yang sudah gelap, aku hanya mengeluarkan kamera kecilku dan merekam sedikit. “Selamat Datang di Pulo Tunda” yang tertulis pada gapura menyambut kami. Senang bisa tiba juga akhirnya. Di luar bayanganku, pulau ini lebih rapih dan rumah-rumahnya teratur di kanan-kiri. Setelah menyusuri jalan, Ferari memanggil seorang pemuda yang kutahu pasti adalah pemuda lokal yang biasa menjadi tour guide, Husain namanya. Grup membicarakannya dengan nama “Ucen”.

Malam itu tim advance menumpang bermalam di rumahnya, yang ada di kampung Timur Pulau Tunda. Ayah dan Ibu Husain sangat ramah dan menerima kami dengan baik sekali. Malam itu sebelum beristirahat, kami menyempatkan diri untuk menemui Pak Roni, kepala sekolah Sekolah Satu Atap, satu-satunya sekolah di Pulau Tunda; TK (PAUD), SD, hingga SMP. Jadilah kami tahu jika anak-anak pulau harus merantau untuk melanjutkan sekolah ke SMA, seperti ke Serang, Banten. Dari sana, kami yakin pasti semangat mereka akan lebih jauh dibanding anak-anak kota. Pergi jauh dari rumah membuatku mengerti tempaan semangat itu asalnya dari mana.