Bermain di Cikini

2016_0330_21364400[1]

“Mau ngapain ke Cikini?”

“Nonton Silampukau,”

“Silampukau?”

 

Pertama kali mendengar kata ‘Silampukau’ di telinga, yang terbesit adalah kata silam, lampu, dan pukau. Entah ada apa dengan nama itu, mungkin bentuk gambaran dari masa silam yang bercahaya, lalu memukau siapa yang melihat atau mendengarnya. Haha! Itu hanya karanganku saja! Yang benar, mereka adalah duo musisi dari kota Surabaya yang pertama kali kulihat cd musiknya di sebuah toko kaset di basemen Blok M Square.

Dosa, kota, dan Kenangan judul albumnya.

Sepuluh lagu di dalamnya berisi teriakan Ekki Tresnowening & Kharis Junandharu tentang kota kelahirannya. Dan benar saja, membeli album ini berarti sepaket dengan bonusnya, yaitu keinginan untuk menginjakkan kaki di Surabaya. Dan ketika mendengar “Puan Kelana”, kaki pun ingin berdansa.

Malam Jatuh di Surabaya, Doa 1, Lagu Rantau, dan Bianglala menjadi yang paling kusuka setelah Puan Kelana. Ketika melihat posting tentang Silampukau yang akan “Bermain di Cikini” mataku terbelalak. Tanpa pikir panjang, aku memesan tiket. Tak sabar!

Rabu, 30 Maret 2016, di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Silampukau dan kawan-kawan berhasil membuatku tak bisa diam di tempat duduk yang kuharap harusnya semua orang berdiri dan berdansa bersama dengan iringan lagu mereka. Aku merinding, tersenyum, dan tak henti terpukau!

Lagu Bola Raya menjadi pembuka, dan ditutup dengan lagu “Sampai Jumpa” dari album pertama mereka menjadi penutup yang manis.