Secangkir Kopi Pahit dan Gula Aren

“Meski kutahu akan habis masa kita bersama, bolehkah aku memilikimu, segelas kopi hitam yang kuseduh sendiri?” aku meminta.

Kopi tak bergeming.


“Tak akan ku mengadukmu, aku akan menelanmu pelan-pelan. Membiarkanmu menggerayangi tenggorokan hingga seluruh organ dalamku. Tapi suatu saat, aku akan membiarkanmu pergi, karna kau tak mungkin menetap di tubuhku selamanya.

Kopi menyentuh bibirku.


Namun kau pasti meninggalkan rasa yang berdera, di lidahku maupun di sekujur anatomiku.” aku memohon.

Lidahku kelu.


“Setelahmu, aku akan melahap gula aren yang tak akan membuat rasa pahitmu hilang, karena aku tak akan menikmatimu secara bersamaan.

Gula aren mulai menatap ke arahku. 


Dia akan memberikanku rasa manis, tapi takkan kurasa manis kalau kalau aku tak pernah mengecap pahitmu..” dan, aku melepaskan.

Gelas kopi sudah kosong.

Aku merasakan manis gula aren di bibirku

dan tersenyum.